Senin, 16 Januari 2012

Komunitas Masyarakat Indis di Kota Semarang

Pada abad ke-16, orang Belanda datang ke Indonesia hanya untuk berdagang, tetapi kemudian menjadi penguasa di Indonesia. Pada awal kehadirannya, mereka mendirikan gudang-gudang (pakhuizen) untuk menimbun barang dagangan yang berupa rempah-rempah. Gudang-gudang itu berlokasi di Banten, Jepara, dan Jayakarta. Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), yang memiliki modal besar untuk mendirikan gudang penyimpan barang dagangan dan kantor dagang, kemudian memperkuatnya sebagai benteng pertahanan sekaligus sebagai tempat tinggal.
Kedatangan bangsa Belanda ini membawa unsur kebudayaan Barat dengan nilai- nilai yang terkandung pula. Sedangkan di Indonesia sendiri sudah terdapat budaya lokal atau pribumi yang telah lebih dulu ada di nusantara. Karena adanya proses interaksi, kemudian pada akhirnya akan menyebabkan persilangan kedua kebudayaan tersebut karena dipengaruhi banyak faktor. Faktor itu misalnya perkawinan bangsa Belanda dan pribumi, adanya pembauran, dan hal-hal lain yang bisa menyebabkan bertemunya kedua budaya tersebut. Persilangan budaya Barat/Belanda dan budaya lokal/Pribumi/Hindia kemudian menghasilkan satu jenis kebudayaan baru yaitu Kebudayaan Indis.
Kata “Indis” dalam berasal dari bahasa Belanda “Nederlandsch Indie” atau Hindia Belanda, yaitu nama daerah jajahan Belanda di seberang lautan yang secara geografis meliputi jajahan di kepulauan yang di sebut Nederlandsch Oost Indie. Kebudayaan Indis secara umum adalah monumen estetis hasil budaya binaan (cultural construct) dan imajinasi kolektif, serta ekspresi kreatif sekelompok masyarakat di Hindia Belanda yang menggunakan dasar budaya Belanda dan Indonesia.
Di kota Semarang terdapat juga komunitas masyarakat Indis dan hasil kebudayaan yang ditinggalkannya. Semarang telah menjadi stategis di wilayah pesisir utara Pulau Jawa sejak penjajahan Belanda baik sebagai kota perdagangan maupun ibukota pemerintahan Kolonial Belanda. Peninggalan masyarakat Indis di Semarang dapat dijumpai di daerah kota Lama dan juga di daerah Mataram. Akan tetapi berdasarkan salah satu informan yang saya temui, pada saat sekarang ini komunitas Indis sudah banyak yang tidak bertempat tinggal di sekitar kota Lama, kebanyakan mereka sekarang tinggal di daerah Pekojan. Oleh karena itu saya melakukan kegiatan observasi dan wawancara mengenai komunitas masyarakat Indis dan observasi saya laksanakan pada tanggal 21 Desember 2011. Kajian dari observasi saya sendiri ialah mengenai stratifikasi sosial, sistem kekerabatan, bahasa/ dialek, serta simbol/ lambang komunitas masyarakat Indis. Adapun hasil observasi dan studi pustaka yang telah saya lakukan adalah sebagai berikut:
      A.    Stratifikasi sosial masyarakat Indis
Stratifikasi sosial merupakan pembedaaan masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial secara vertikal yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Adanya stratifikasi sosial pada komunitas masyarakat Indis tidak lepas dari adanya pengaruh dari kebijakan pada masa penjajahan kolonial Belanda. Pada saat itu stratifikasi sosial yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda adalah golongan pertama ditempati oleh orang Belanda dan orang asing ( kulit putih). Golongan kedua ditempati oleh orang timur asing, dan golongan ketiga ditempati oleh orang pribumi.
Sedangkan sebelum masa kolonial Belanda, masyarakat di Jawa sendiri juga sudah memiliki stratifikasi sosial secara tradisional. Stratifikasi sosial pada waktu itu menggunakan ukuran kedudukan jabatan di pemerintahan dengan tingkatan pada golongan pertama diduduki oleh raja. Golongan kedua diduduki oleh keluarga raja/ bangsawan. Pada golongan ketiga diduduki oleh para pejabat tinggi, pembantu pribadi/ pengikut raja. Golongan selanjutnya diduduki oleh kaum rohaniawan. Pada golongan yang terakhir diduduki oleh pejabat rendahan. Secara umum status sosial tertinggi dimiliki oleh raja dan bangsawan / keturunan raja, kemudian pejabat sipil, militer, agama, kehakiman, kecuali ulama istana, golongan tersebut yang disebut mantri.
Kelompok masyarakat utama yang terhormat (mijnheer) disebut “signores”, dan keturunannya disebut “sinyo”. Oleh orang pribumi, keturunan Belanda asli disebut “grad satu” atau “liplap”, sedangkan “grad dua” disebut “grobiak” dan “grad tiga” disebut “kasoedik”. Dalam penggunaan istilah di masyarakat, kata grobiak dan kasoedik lama kelamaan hilang. Golongan masyarakat tersebut,kecuali wong cilik merupakan pendukung kuat kebudayaan Indis. Selain wong cilik,para pedagang dan pengusaha keturunan Cina dan Arab banyak juga membangun rumah bergaya Indis. Masyarakat koloniual Hindia Belanda memiliki stuktur yang bersifat (semi) teodal.
Pada masa sekarang ini, stratifikasi sosial yang ada pada masyarakat Indis saya kira saat ini tidak seradikal pada masa penjajahan kolonial Belanda. Stratifikasi social yang ada pada saat ini saya melihatnya lebih kepada perbedaan tingkat pendidikan dan juga gaya hidup. Pada segi pendidikan, sekarang ini prestise golongan masyarakat pribumi yang berpendidikan barat lambat laun menjadi makin kuat. Masyarakat yang termasuk keturunan Indis, terlebih mereka yang memiliki lulusan pendidikan yang tinggi, mereka akan mendapatkan posisi yang lebih terpandang dan terhormat di masyarakat.
Sedangkan gaya hidup masyarakat Indis termasuk  memiliki kehidupan yang mewah dan boros akibat keberasilan di bidang ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda kebesaran sebagai lambing status sosial masyarakat Indis, seperti contohnya adalah memiliki bentuk rumah yang besar, pola kehidupan sehari-hari yang serba teratur, serta perayaan-perayaan peristiwa penting seperti upacara kelahiran, upacara pernikahan maupun upacara kematian yang lazim dilaksanakan secara besar-besaran.
      B.     Sistem bahasa/ dialek masyarakat Indis
Untuk penggunaan bahasa pada masyarakat Indis, sejak akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-20, bahasa Melayu pasar mulai berbaur dengan bahasa Belanda. Menurut hasil observasi dan studi pustaka yang saya lakukan, di Semarang sendiri bahasa hasil campuran orang-orang Belanda dengan orang Jawa ini lazim disebut bahasa peotjuk atau petjoek. Selain itu, sempat pula muncul bahasa Javindo sebagai bahasa gaul yang digunakan untuk berkomunikasi dikalangan priyayi dan pejabat-pejabat dari kalangan pribumi serta kalangan Indo (peranakan Belanda-Pribumi). Kehadairan bangsa Belanda di Indonesia yang di lanjutkan dengan percampuran darah dan budaya memunculkan sekelompok masyarakat yang berdarah campuran.
Namun sayang ragam  bahasa Petjoek dan Javindo ini seiring berjalannya waktu, kedua bahasa ini menghilang seiring dengan penjajahan Jepang dan merdekanya Indonesia dari penjajahan Belanda tahun 1945. Untuk masa sekarang ini, kelompok-kelompok pengusung budaya Indis ini banyak yang kembali menuju Belanda atau negara lainnya. Sedangkan yang tertinggal secara berangsur terasimilasi dengan budaya baru yang tercipta pasca kemerdekaan. Oleh karena alasan itulah, saya hanya mendapatkan sedikit informasi mengenai sistem bahasa/ dialek pada masyarakat Indis.
      C.     Simbol dalam masyarakat Indis
Untuk menggali informasi mengenai symbol-simbol yang ada pada masyarakat Indis, observasi yang saya lakukan lebih banyak tertuju pada gedung-gedung tua, hasil peninggalan kebudayaan Indis. Umumnya rumah gaya Indis beragam hias sederhana. Peninggalan kebudayaan Indis yang ada di kota Semarang berupa gedung- gedung tua di sudut kota yang masih tetap berdiri kokoh hingga sekarang. Ketika saya memasuki kawasan kota Lama, saya melihat gedung-gedung tua yang sudah berdiri kokoh sejak zaman kolonial. Gedung-gedung tersebut antara lain Gereja Blenduk, Taman Sri Gunting, Marba, Roode Driehoek, Dorsumy dan masih banyak yang lainnya.

Gereja Blenduk terletak di Jalan Letjen Suprapto No.32. Merupakan bangunan yang memiliki gaya arsitektur Phantheon. Gereja ini didirikan pada tahun 1753 sebagai gereja pertama di Semarang dan telah dipugar pertama kalinya pada tahun 1894 oleh arsitek Belanda bernama HPA de Wilde dan Westmaas. Gereja ini disebut Gereja Blenduk karena bentuk kubahnya yang seperti irisan bola, sehingga orang mengatakan “mblenduk”. Bangunannya berbentuk segidelapan beraturan (hexagonal) dengan keunikan interiornya . Sebagai salah satu bangunan kuno di lingkungan Kota Lama yang banyak dikunjungi wisatawan dan sampai sekarang merupakan tempat ibadah umat nasrani.
Gedung Marba merupakan salah satu gedung tua peninggalan kebudayaan Indis. Gedung tua yang terletak di salah satu sudut kota lama, seberang Taman Srigunting, tepatnya Jalan Let. Jend. Suprapto No 33 Semarang ini dibangun pada pertengahan abad XIX. Bangunan ini terdiri 2 lantai dengan tebal dinding ± 20 cm. Bangunan ini berdiri sekitar pertengahan abad XIX. Pembangunan ini diprakarsai oleh MARTA BADJUNET, seorang warga negara Yaman yang merupakan seorang saudagar kaya pada zaman itu. Untuk mengenang jasanya bangunan itu dinamai singkatan namanya MARBA.
Gedung ini awalnya digunakan sebagai kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Selain sebagai kantor, gedung tersebut sempat pula digunakan untuk toko yang modern dan satu-satunya pada waktu itu, waktu itu tokonya bernama DE ZEIKEL. Setelah pensiun, perusahaan pelayarannya dipegang oleh anaknya MR MARZUKI BAWAZIR. Agak disayangkan gedung kuno yang eksotis ini saat ini tidak ada aktivitasnya dan digunakan untuk gudang.
Selain itu ada juga gedung-gedung tua yang pada zaman pemerintahan kolonial digunakan untuk gudang perdagangan dan juga kantor-kantor pemerintahan, kini difungsikan sebagai perkantoran dan juga restaurant. Seperti data yang saya peroleh, saya sempat mengambil gambar sebuah bangunan tua yang sekarang mejadi gudang dinas pendidikan provinsi Jawa Tengah. Menurut informasi yang saya peroleh, gedung yang dulunya bernama Dorsumy ini, pada zaman kolonial Belanda gedung ini dijadikan sebagai gudang roti. Baru pada tahun 1967, gedung ini dialih fungsikan sebagai gudang dinas pendidikan.


»»  Read More...

Jumat, 13 Januari 2012

Masalah Putus Sekolah (Drop Out)


Putus sekolah merupakan predikat yang diberikan kepada mantan peserta didik yang tidak mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, sehingga tidak dapat melenjutkan studinya kejenjang pendidikan selanjutnya. Misalnya seorang warga masyarakat/ anak yang hanya mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar (SD) sampai kelas lima, disebut putus sekolah SD (belum tamat SD/ tanpa STTB). Demikian juga seorang warga masyarakat yang ber-STTB SD kemudian mengikuti pendidikan di SMP sampai kelas dua saja, disebut putus sekolah SMP, dan seterusnya.
Bila seorang warga masyarakat telah tamat SD/ SMTP/ SMTA/ PT dan memiliki STTB/ ijazah negara yang sah, maka ia disebut berpendidikan tertinggi SD/ SMTP/ SMTA/ PT, sehungga bila ia bekerja menjadi pegawai negeri sipil (PNS) ia memperoleh efek sipil sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian Republik Indonesia. Masalah putus sekolah khususnya pada jenjang pendidikan rendah, kemudian tidak bekerja atau tidak berpenghasilan tetap, dapat merupakan beban masyarakat bahkan sering menjadi pengganggu ketentraman masyarakat. Hal ini diakibatkan kurangnya pendidikan atau pengalaman intelektual, serta tidak memilki keterampilan yang dapat menopang kehudupannya sehari-hari. Lebih-lebih bila mengalami frustasi dan merasa rendah diri tetapi bersikap overkompensasi, bisa menimbulkan gangguan-gangguan dalam masyarakat berupa perbuatan kenakalan yang bertentangan dengan norma-norma yang positif.
Masalah putus sekolah dapat menimbulkan ekses dalam kehidupan masyarakat, karena itu penanganannya menjadi tugas kita semua. Khususnya melalui strategi dan pemikiran-pemikiran sosiologi pendidikan, sehingga para putus sekolah tidak mengganggu kesejahteraan sosial. Sekurang-kurangnya ada tiga langkah yang dapat dilakukan, yaitu:
   a.       Langkah preventif. Membekali peserta didik dengan keterampilan-keterampilan praktis dan bermanfaat sejak dini, agar kelak bila diperlukan dapat merespon tantangan-tantangan hidup dalam masyarakat secara positif, sehingga dapat mandiri dan tidak menjadi beban masyarakat, atau menjadi parasit dalam masyarakat. Misalnya keterampilan-keterampilan kerajinan, jasa, perbengkelan, elektronik, PKK, fotografi, batuk, dll.
    b.      Langkah pembinaan. Memberikan pengetahuan-pengetahuan praktis yang mengikuti perkembangan/ pembauran zaman, melalui bimbingn dan pelatihan-pelatihan dalam lembaga-lembaga sosial/ pendidikan di luar sekolah seperti LKMD, PKK, karangtaruna, dll.
   c.       Langkah tindak lanjut. Memeberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepad mereka untuk terus melangkah maju melalui penyediaan fasilitas-fasilitas penunjang sesuai kemampuan masyarakat tanpa mengada-ada, termasuk membina hasrat pribadi untuk berkehidupan yang lebih baik dalam masyarakat. Misalnya memberikan penghargaan, bonus, keteladanan, kepahlawanan, dan segabianya, sampai berbagai kemudahan untk melanjutkan studi dengan program Belajar Jarak Jauh (BJJ), seperti universitas terbuka, sekolah terbuka, dan sebagainya. Juga dapat melui koperasi dengan berbagai kredit (KIK, KCK, Kredit Profesi, dll).


Sumber: Sosiologi Pendidikan “ Suatu Analisis Sosiologi Tentang Pelbagai Problem Pendidikan”, Drs. Ary H. Gunawan.
»»  Read More...

Selasa, 10 Januari 2012

Batik Indonesia

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.
Budaya Batik
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta. Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Corak batik
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.
Jenis Batik
·         Menurut Teknik
a.      Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
b.      Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
c.      Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.
·         Menurut asal pembuatan
Batik Jawa batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

Source : Wikipedia. Ensiklopedia bebas
»»  Read More...

Sabtu, 07 Januari 2012

Teori Konflik menurut Ralf Dahrendrof

Bukan hanya Coser saja yang tidak puas dengan pengabaian konflik dalam pembentukan teori sosiologi.segera setelah penampilan karya Coser, seorang ahli sosiologi Jerman bernama Ralf Dahrendorf menyadur teori kelas dan konflik kelasnya ke dalam bahasa inggris yang sebelumnya berbahasa Jerman agar lebih mudah difahami oleh sosiolog Amerika yang tidak faham bahasa Jerman saat kunjungan singkatnya ke Amerika Serikat (1957- 1958). Dahrendorf tidak menggunakan teori Simmel melainkan membangun teorinya dengan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta memodifikasi teori sosiologi Karl Marx. Seperti halnya Coser, Ralf Dahrendorf mula- mula melihat teori konflik sebagai teori parsial, mengenggap teori tersebut merupakan perspektif yang dapat dipakai untuk menganalisa fenomena sosial. Ralf Dahrendorf menganggap masyarakat bersisi ganda, memiliki sisi konflik dan sisi kerja sama.
Inti Pemikiran
Teori konflik Ralf Dahrendorf merupakan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta modifikasi teori sosiologi Karl Marx. Karl Marx berpendapat bahwa pemilikan dan Kontrol sarana- sarana berada dalam satu individu- individu yang sama.
Menurut Dahrendorf tidak selalu pemilik sarana- sarana juga bertugas sebagai pengontrol apalagi pada abad kesembilan belas. Bentuk penolakan tersebut ia tunjukkan dengan memaparkan perubahan yang terjadi di masyarakat industri semenjak abad kesembilan belas, diantaranya adalah:
      ·         Dekomposisi modal
Menurut Dahrendorf timbulnya korporasi- korporasi dengan saham yang dimiliki oleh orang banyak, dimana tak seorangpun memiliki kontrol penuh merupakan contoh dari dekomposisi modal. Dekomposisi tenaga.
      ·         Dekomposisi Tenaga kerja
Di abad spesialisasi sekarang ini mungkin sekali seorang atau beberapa orang mengendalikan perusahaan yang bukan miliknya, seperti halnya seseorang atau beberapa orang yang mempunyai perusahaan tapi tidak mengendalikanya. Karena zaman ini adalah zaman keahlian dan spesialisasi, manajemen perusahaan dapat menyewa pegawai- pegawai untuk memimpin perusahaanya agar berkembang dengan baik.
      ·         Timbulnya kelas menengah baru
Pada akhir abad kesembilan belas, lahir kelas pekerja dengan susunan yang jelas, di mana para buruh terampil berada di jenjang atas sedang buruh biasa berada di bawah.
Penerimaan Dahrendorf pada teori konflik Karl Marx adalah ide mengenai pertentangan kelas sebagai satu bentuk konflik dan sebagai sumber perubahan sosial. Kemudian dimodifikasi oleh berdasarkan perkembangan yang terjadi akhir- akhir ini. Dahrendorf mengatakan bahwa ada dasar baru bagi pembentukan kelas, sebagai pengganti konsepsi pemilikan sarana produksi sebagai dasar perbedaan kelas itu. Menurut Dahrendorf hubungan- hubungan kekuasaan yang menyangkut bawahan dan atasan menyediakan unsur bagi kelahiran kelas.
Dahrendorf mengakui terdapat perbedaan di antara mereka yang memiliki sedikit dan banyak kekuasaan. Perbedaan dominasi itu dapat terjadi secara drastis. Tetapi pada dasarnya tetap terdapat dua kelas sosial yaitu, mereka yang berkuasa dan yang dikuasai. Dalam analisanya Dahrendorf menganggap bahwa secara empiris, pertentangan kelompok mungkin paling mudah di analisa bila dilihat sebagai pertentangan mengenai ligitimasi hubungan- hubungan kekuasaan. Dalam setiap asosiasi, kepentingan kelompok penguasa merupakan nilai- nilai yang merupakan ideologi keabsahan kekuasannya, sementara kepentingan- kepentingan kelompok bawah melahirkan ancaman bagi ideologi ini serta hubungan- hubungan sosial yang terkandung di dalamnya.
Contoh: Kasus kelompok minoritas yang pada tahun 1960-an kesadarannya telah memuncak, antara lain termasuk kelompok- kelompok kulit hitam, wanita, suku Indian dan Chicanos. Kelompok wanita sebelum tahun 1960-an merupakan kelompok semu yang ditolak oleh kekuasan di sebagian besar struktur sosial di mana mereka berpartisipasi. Pada pertengahan tahun 1960-an muncul kesadaran kaum wanita untuk menyamakan derajatnya dengan kaum laki- laki.


Source : Wikipedia, Ensiklopedia Bebas
»»  Read More...

Teori Konflik menurut Lewis A. Coser

Selama lebih dari dua puluh tahun Lewis A. Coser tetap terikat pada model sosiologi dengan tertumpu kepada struktur sosial. Pada saat yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik sosial. Berbeda dengan beberapa ahli sosiologi yang menegaskan eksistensi dua perspektif yang berbeda (teori fungsionalis dan teori konflik), coser mengungkapkan komitmennya pada kemungkinan menyatukan kedua pendekatan tersebut.
            Akan tetapi para ahli sosiologi kontemporer sering mengacuhkan analisa konflik sosial, mereka melihatnya konflik sebagai penyakit bagi kelompok sosial. Coser memilih untuk menunjukkan berbagai sumbangan konflik yang secara potensial positif yaitu membentuk serta mempertahankan struktur suatu kelompok tertentu. Coser mengembangkan perspektif konflik karya ahli sosiologi Jerman, George Simmel.
Seperti halnya Simmel, Coser tidak mencoba menghasilkan teori menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial. Karena ia yakin bahwa setiap usaha untuk menghasilkan suatu teori sosial menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial adalah premature (sesuatu yang sia- sia. Memang Simmel tidak pernah menghasilkan risalat sebesar Emile DurkheimMax Weber atau Karl Marx. Namun, Simmel mempertahankan pendapatnya bahwa sosiologi bekerja untuk menyempurnakan dan mengembangkan bentuk- bentuk atau konsep- konsep sosiologi di mana isi dunia empiris dapat ditempatkan. Penjelasan tentang teori knflik Simmel sebagai berikut:
   v  Simmel memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat. Struktur     sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup pelbagai proses asosiatif dan disosiatif yang tidak mungkin terpisah- pisahkan, namun dapat dibedakan dalam analisa.
   v  Menurut Simmel konflik tunduk pada perubahan. Coser mengembangkan proposisi dan memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi- kondisi di mana konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka masyarakat
Inti Pemikiran
Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.
Coser melihat katup penyelamat berfungsi sebagai jalan ke luar yang meredakan permusuhan, yang tanpa itu hubungan- hubungan di antara pihak-pihak yang bertentangan akan semakin menajam. Katup Penyelamat (savety-value) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial. Katup penyelamat merupakan sebuah institusi pengungkapan rasa tidak puas atas sebuah sistem atau struktur.
Menurut Coser konflik dibagi menjadi dua, yaitu:
     1.      Konflik Realistis, berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan- tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Contohnya para karyawan yang mogok kerja agar tuntutan mereka berupa kenaikan upah atau gaji dinaikkan.
      2.      Konflik Non- Realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan- tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh, santet dan lain- lain. Sebagaimana halnya masyarakat maju melakukan pengkambinghitaman sebagai pengganti ketidakmampuan melawan kelompok yang seharusnya menjadi lawan mereka.
Menurut Coser terdapat suatu kemungkinan seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresi. Akan tetapi apabila konflik berkembang dalam hubungan- hubungan yang intim, maka pemisahan (antara konflik realistis dan non-realistis) akan lebih sulit untuk dipertahankan. Coser mennyatakan bahwa, semakin dekat suatu hubungan semakin besar rasa kasih saying yang sudah tertanam, sehingga semakin besar juga kecenderungan untuk menekan ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan. Sedang pada hubungan- hubungan sekunder, seperti misalnya dengan rekan bisnis, rasa permusuhan dapat relatif bebas diungkapkan. Hal ini tidak selalu bisa terjadi dalam hubungan- hubungan primer dimana keterlibatan total para partisipan membuat pengungkapan perasaan yang demikian merupakan bahaya bagi hubungan tersebut. Apabila konflik tersebut benar- benar melampaui batas sehingga menyebabkan ledakan yang membahayakan hubungan tersebut.
Coser, mengutip hasil pengamatan Simmel yang meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok. Dia menjelaskan bukti yang berasal dari hasil pengamatan terhadap masyarakat Yahudi bahwa peningkatan konflik kelompok dapat dihubungkan dengan peningkatan interaksi dengan masyarakat secara keseluruhan. Bila konflik dalam kelompok tidak ada, berarti menunjukkan lemahnya integrasi kelompok tersebut dengan masyarakat. Dalam struktur besar atau kecil konflik in-group merupakan indikator adanya suatu hubungan yang sehat. Coser sangat menentang para ahli sosiologi yang selalu melihat konflik hanya dalam pandangan negatif saja. Perbedaan merupakan peristiwa normal yang sebenarnya dapat memperkuat struktur sosial. Dengan demikian Coser menolak pandangan bahwa ketiadaan konflik sebagai indikator dari kekuatan dan kestabilan suatu hubungan.



Source : Wikipedia, Ensiklopedia Bebas
»»  Read More...